Tentang Museum
Mengenal lebih dekat sejarah, visi, dan dedikasi kami dalam melestarikan warisan peradaban Aceh.
Profil & Sejarah
Sejarah Singkat Museum Harun Keuchik Leumiek
Museum Harun Keuchik Leumiek (MHKL) lahir dari semangat pelestarian warisan budaya Aceh yang telah dirintis selama puluhan tahun oleh almarhum Harun Keuchik Leumiek (19 September 1942 – 16 September 2021), seorang kolektor, jurnalis, pengusaha emas dan permata, serta pemerhati sejarah dan kebudayaan Aceh.
Sejak dekade 1970-an, Harun Keuchik Leumiek mengabdikan dirinya untuk mengumpulkan, merawat, dan menyelamatkan berbagai benda budaya yang merekam perjalanan panjang peradaban Aceh. Koleksi tersebut sebelumnya tersimpan di kediaman beliau di kawasan Simpang Surabaya, Kota Banda Aceh, yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat sebagai museum pribadi.
Setelah wafatnya almarhum, amanah pelestarian ini dilanjutkan oleh keluarga besar Harun Keuchik Leumiek. H. Muhammad Kamaruzzaman HKL, S.E., sebagai putra almarhum, menjadi motor utama dalam merajut kembali, merawat, dan mengembangkan seluruh koleksi warisan tersebut. Beliau sekaligus merupakan pendiri dan pembina Yayasan Harun Keuchik Leumiek yang menaungi pendirian Museum Harun Keuchik Leumiek.
Museum ini didirikan bukan semata-mata untuk menyimpan benda-benda kuno, melainkan sebagai pusat pelestarian memori kolektif masyarakat Aceh. Setiap koleksi merupakan saksi perjalanan sejarah, perkembangan seni, kemajuan teknologi tradisional, diplomasi, perdagangan, serta dinamika kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Aceh dari masa ke masa.
Koleksi Museum Harun Keuchik Leumiek mencakup beragam kategori benda budaya, antara lain perhiasan tradisional Aceh dari masa Kesultanan Aceh, mata uang emas Derham dari era Samudra Pasai hingga Kesultanan Aceh Darussalam, senjata tradisional seperti siwah, rencong, dan pedang, cap stempel Kesultanan Aceh (Cap Sikureung) serta cap para uleebalang, manuskrip-manuskrip kuno Aceh, tekstil tradisional berkasab emas, porselen dari Asia dan Eropa, hingga berbagai perlengkapan adat dan rumah tangga kaum bangsawan Aceh.
Sebagian koleksi tersebut memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi karena memperlihatkan hubungan Aceh dengan berbagai peradaban dunia, termasuk Timur Tengah, Asia Timur, India, dan Eropa. Melalui koleksi-koleksi inilah pengunjung dapat memahami bahwa Aceh pernah menjadi salah satu pusat peradaban penting di kawasan Asia Tenggara.
Untuk menjamin keberlanjutan pelestarian koleksi tersebut, keluarga mendirikan sebuah museum khusus di kompleks Masjid Haji Keuchik Leumiek, Desa Lamseupeung, Kecamatan Lueng Bata, Kota Banda Aceh. Gedung museum berlantai tiga ini dirancang sebagai ruang edukasi, penelitian, rekreasi budaya, serta pusat apresiasi terhadap kekayaan warisan sejarah Aceh.
Secara kelembagaan, Museum Harun Keuchik Leumiek berada di bawah naungan Yayasan Harun Keuchik Leumiek yang didirikan berdasarkan Akta Notaris Nomor 21 tanggal 20 Mei 2026 oleh Muhammad Nur, S.H., M.Kn., dan telah memperoleh pengesahan dari Kementerian Hukum Republik Indonesia melalui Keputusan Menteri Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-0012641.AH.01.04 Tahun 2026 tanggal 22 Mei 2026.
"Keberadaan Museum Harun Keuchik Leumiek merupakan bentuk tanggung jawab moral keluarga untuk menyelamatkan aset budaya Aceh agar tetap terjaga, terdokumentasi, dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Dengan terbukanya museum ini bagi masyarakat umum, diharapkan semakin banyak pihak yang dapat mengenal, mempelajari, serta menumbuhkan kebanggaan terhadap kegemilangan peradaban Aceh."
Museum Harun Keuchik Leumiek akan terus berkembang melalui penguatan tata kelola, peningkatan standar permuseuman, pengembangan program edukasi, kerja sama ilmiah, serta penambahan koleksi yang relevan, sehingga mampu tumbuh sebagai museum rujukan tentang sejarah dan kebudayaan Aceh yang berdaya saing nasional maupun internasional.
Arsitektur & Masjid
Kemegahan Arsitektur Masjid H. Harun Keuchik Leumiek
Terletak di satu kompleks yang sama, Masjid Haji Keuchik Leumiek tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga sebuah mahakarya arsitektur yang ikonik di Banda Aceh. Masjid ini dibangun dengan memadukan unsur arsitektur Timur Tengah dan nilai-nilai estetika Aceh, menjadikannya salah satu masjid terindah di kawasan ini.
Kubah emas yang menjulang megah, ukiran kaligrafi yang detail, serta pilar-pilar kokoh yang menopang struktur bangunan menciptakan suasana spiritual yang mendalam sekaligus mengagumkan secara visual. Kehadiran museum di area kompleks masjid ini semakin menyempurnakan perpaduan antara wisata religi, budaya, dan edukasi bagi para peziarah maupun wisatawan.
Komitmen Masa Depan
Visi & Misi
Visi
Menjadikan Museum Harun Keuchik Leumiek sebagai pusat pelestarian warisan Islam dan budaya Aceh di mata dunia, serta menjadi rujukan utama dalam edukasi dan penelitian sejarah Aceh.
Misi
- Menyelamatkan, merawat, dan mendokumentasikan aset budaya peninggalan peradaban Aceh.
- Menyelenggarakan tata kelola museum yang profesional dengan standar permuseuman yang tinggi.
- Mengembangkan program edukasi, literasi sejarah, dan penelitian yang melibatkan generasi muda dan masyarakat luas.
- Membangun kerja sama ilmiah serta mempromosikan kebesaran peradaban Aceh secara nasional dan internasional.